RSS

Minggu, 13 Juni 2010

Bismillah, moga bener2 jdi inspirasi....

3 orang yg akan selalu diberi pertolongan oleh Allah adalah : 


1. Seorg MUJAHID yg slalu mperjuangkn agama Islam, 
2. Seorg PENULIS yg slalu mbri pnawar, 
3. Seorg yg MENIKAH utk mjaga khormatannya! (H.R.THABRANI).


Kalo memang blum bisa trpenuhi ketiga2nya, maka mudahknlh bgQ utk optimal d salah satunya, Ya Allah.. Aamiin.. 

Kamis, 04 Maret 2010

Hati Tentram

Bagi kamu-kamu yang lagi punya banyak masalah dan hatinya sedang berontak bak serigala kelaparan dan mengalami gejala insomnia (tidak bisa tidur) berikut sedikit tips agar hatimu lebih tenang dan damai.:…
  1. Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki sehingga kita tidak selalu “menyalahkan” sesuatu atau orang lain atas apa yang terjadi pada kita. Atau kita merasa iri melihat kesuksesan orang lain dan merasa rendah diri dengan kegagalan yang kita alami.
  2. Selalu berpikir positif atas segala hal yang terjadi dan yakin bahwa yang terjadi itu adalah hal terbaik untuk diri kita.
  3. Tidak membandingkan diri sendiri dengan orang lain tetapi membandingkan diri sendiri dengan diri sendiri kita sebelumnya untuk hal-hal yang sudah kita lakukan.
  4. Selalu berusaha dan tidak mudah putus asa.
  5. Selalu menerima apa yang sudah kita miliki.
Itu menurut Hasil Search saya di Google.., kalo menurut saya cara untuk kamu yang hatinya lagi rusak adalah:…
  1. Beribadah (Sholat)
  2. Membaca surat Al-Fatihah 1-100 Kali (Karena menurut islam al-fatihah adalah obat batin dan jasmani)
  3. Berpikiran Positif.

Minggu, 21 Februari 2010

Mengurai benang kusut dalam gelas...


Guru paham bahwa mereka tak boleh otoriter, tapi susah sekali mempraktikkannya.

Pada sebuah sore, puluhan guru berkumpul di Teacher Institute, Sampoerna Foundation, Sudirman, Jakarta Pusat. Mereka datang dari berbagai tingkat sekolah, dari Taman Kanak-kanak hingga Sekolah Menengah Atas.

Mereka datang untuk berbagi satu hal, kiat menciptakan suasana kelas yang nyaman agar siswa betah belajar. Mereka datang dari berbagai wilayah, ada yang dari Jakarta, Depok, Tangerang, Lampung, hingga Bandung.

Mereka, sekitar 70 tumplek bleg, baik dari sekolah negeri maupun sekolah swasta isu-isu seputar manajemen sebuah kelas. Titik, salah seorang peserta, mengatakan untuk menegakkan disiplin, guru harus fokus pada murid "si trouble maker" (pembuat onar).

"Kalau perlu, si trouble maker ini yang kita jadikan ketua kelas. Kalau guru memberinya tanggung jawab, otomatis dia akan mengatur dirinya sendiri dan juga mengatur kelas. Kalau dia sudah disiplin, maka yang lain akan mengikuti," kata Titik.

Sedang menurut Willy, peserta yang lainnya, guru harus menyosialisasikan disiplin ke murid. Kalau perlu, tambahnya, kalimat dalam tata tertib diubah. Sebagai contoh, daripada menulis "Dilarang Merokok" lebih baik menulis "Terima Kasih untuk tidak merokok'.

Fasilitator forum, Jalu Noor Cahyanto sejalan dengan Willy. Menurutnya, sosialisasi aturan di kelas mutlak diperlukan. "Dari awal diumumkan agar guru dapat bersikap tegas," ujar Jalu.

Ada juga trik-trik melumpuhkan kebiasaan nyontek. Di antaranya membalik meja agar siswa tak bisa menggunakan kolongnya, membuat soal dalam bentuk esai, atau membuat variasi soal.

Yang tak kalah pentingnya adalah guru mengawasi dari bangku paling belakang. Jalu bilang, cara ini efektif membuat siswa merasa diawasi. Jadi, mereka akan selalu memperhitungkan setiap gerak yang mereka buat.

Tapi, bagi siswa yang jelas-jelas menyontek, tentu saja tak ada toleransi. Diskusi ini sebagai pengantar untuk mengetahui kecenderungan guru dalam mengajar. Mereka membahas pula profil manajemen kelas yang terbagi empat tipe.

Yakni menejemen kelas, yaitu authoritarian (otoriter), authoritative (delegatif/efektif), laissez-faire (permisif), dan indifferent (tak acuh). Guru dengan tipe otoriter biasanya memiliki kontrol dan batasan yang ketat terhadap siswa, tak pernah mengubah posisi duduk siswa, tak menerima masukan dari siswa, kelas cenderung sunyi karena siswa tak boleh menginterupsi, dan tak ada variasi dalam mengajar.

Sedang guru tipe delegatif, biasanya terbuka terhadap kritik, memotivasi siswa, tegas namun ramah, selalu memberi alasan terhadap keputusannya, mengubah-ubah letak duduk siswa, dan membebaskan siswa berkomunikasi sepanjang relevan dengan pengajaran.

Pada tipe ketiga atau permisif, guru cenderung tidak tegas dalam menjalankan peraturan kelas, terlalu memerhatikan emosi siswa daripada kesuksesan mengatur kelas, cenderung menjadi teman bagi siswa, permisif, dan semuanya terserah pada siswa.

Pada tipe acuh tak acuh, guru sama sekali tak ada minat dan perhatian pada siswa, tak mau terlibat dengan siswa, tidak kreatif sehingga menggunakan materi yang sama tiap tahun, dan tak pernah memotivasi siswa.

Beberapa bulan lalu, Teacher Institute pernah mengadakan survei profil manajemen kelas guru SD dan SMP di DKI Jakarta. Namun, terbatas pada peserta yang mengikuti kegiatan mereka saat itu.

Ternyata, tipe yang paling banyak adalah delegatif, lalu permisif, diikuti oleh otoriter dan tak acuh. "Kebanyakan mereka sudah paham secara konsep. Tapi, waktu kita follow up praktik mengajar mereka di sekolah, ternyata cenderung otoriter," kata Jalu yang juga praktisi pendidikan di Teacher Institute.

Meski paham bahwa tata letak kelas harus diubah agar siswa tak bosan, namun sedikit sekali yang melakukannya. "Siswa lebih cenderung bermain sendiri dan tak ada peraturan yang dibuat," terang Jalu.

Padahal, katanya, guru mutlak menciptakan suasana yang kondusif untuk pelajaran. Jika manajemen kelas baik, maka otomatis siwa akan menganggap kelas sebagai milik mereka.
Siswa belajar bukan karena guru otoriter tapi karena mereka merasa menjadi bagian dalam proses itu.

"Otomatis pembelajaran pun akan lebih optimal. Siswa sadar bahwa jika dia berbuat sesuatu yang tidak baik, otomatis semua kegiatan belajar akan terganggu."

Selain itu, peraturan kelas harus dibuat bersama. Dengan demikian, siswa akan merasa bertanggung jawab untuk mewujudkannya. Guru juga harus kreatif. Seorang guru harus tahu bagaimana membuat perubahan yang dapat memotivasi siswa untuk belajar.
(Ika Karlina Idris)

Dimuat di Jurnal Nasional, Senin, 30 Juli 2007.

Mengubah Bangsa, mengubah Gurunya...

SEBUAH ruangan dipenuhi para guru dan kepala sekolah. Mereka sedang berdiskusi tentang cara agar guru bisa menumbuhkan dan mengembangkan potensi murid-muridnya.

Dalam diskusi itu muncul pengakuan sangat menarik dari seorang guru. ''Saya sudah jadi guru selama lima tahun dan saya merasa berdosa. Saya adalah seorang guru matematika. Selama ini saya hanya memindahkan catatan saya ke mereka. Padahal, kelas adalah tempat siswa untuk mengembangkan dirinya,'' ujar guru yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Yang dikatakan guru itu mungkin juga dilakukan dan dirasakan guru-guru lain yang hanya familiar dengan metode ceramah. Padahal, metode itu hanya cocok untuk anak-anak pintar. Padahal, dari sekitar 40-an siswa di kelas, hanya tiga atau empat yang tergolong pintar.

Diskusi dengan topik ''Building Highly Effective Educators'' tersebut digelar oleh Sampoerna Foundation Teacher Institute (SF-TI) pada Jumat (10/8) lalu. Topik ini diambil karena tiap individu memiliki cetak biru dalam mengarahkan hidupnya. Begitu pula guru. Sebagai pengajar dan pendidik, mereka juga harus paham atas aturan-aturan yang mereka miliki, sehingga perannya bisa lebih efektif.

Awalnya, diskusi dibuka dengan menonton film dokumenter tentang pemenang Nobel Perdamaian 2006 asal Bangladesh, M Yunus. Menurut pemateri Agi Rachmat, melalui film itu diharapkan peserta tahu bahwa setiap orang dapat melakukan perubahan. M Yunus melakukan perubahan dengan memberi kredit pada orang miskin, sehingga jumlah mereka berkurang.

''Apakah menjadi guru adalah pilihan Anda?'' tanya Agi.

''Ya!'' jawab beberapa peserta dengan lantang.

''Anda yakin?''

''Ya!''

''Kalau jadi miliarder, mau nggak?'' tanya Agi, yang juga konsultan pendidikan itu, kembali.

Kali ini Peserta mulai-ragu-ragu menjawabnya. ''Kalau Anda cocok dengan kerja tersebut, Anda tak akan pernah mengeluh,'' kata Agi. ''Begitu juga jadi guru. Kalau suka, Anda harus live with it. Kalau tidak, leave it. Kalau nggak happy, ya jangan jadi guru.''

Menurut Agi, ada tiga hal di dunia ini yang tak pernah berubah. Pertama adalah proses perubahan itu sendiri. Jadi, katanya, perubahan adalah hal yang mutlak.

Kedua adalah prinsip. ''Orang yang malas pasti bodoh. Orang yang rajin dan kerja keras pasti berhasil,'' tutur Agi.

Yang ketiga adalah selalu ada pilihan dalam dua hal tadi.

Saat ini kualitas manusia Indonesia ketinggalan jauh dengan bangsa lain. Dulu, cerita Agi, jika Indonesia dibandingkan dengan Malaysia dan Singapura, orang selalu menjadikan ukuran negara sebagai alasan. Tapi, sekarang itu tak berlaku lagi. Lihat saja China.

''Jumlah penduduk mereka 10 kali lebih besar, tapi toh bisa teratur dan rapi. Mereka bisa membuat apa pun lebih murah dan ada kualitasnya. Bahkan, nilai ekspor China bisa mencapai US$2,3 miliar,'' kata Agi.

Meski begitu, Indonesia masih bisa unggul lewat industri kreatif. Itu hanya bisa dibangun jika pengetahuan bisa ditingkatkan. Lagi-lagi, semuanya terletak pada peran guru. Agi menyebutkan konsep 3 M milik Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), yakni mulai dari diri sendiri, mulai sekarang, dan mulai dari hal kecil. Namun, Agi mengubah konsep itu menjadi 3 S, yaitu sendiri, sekarang, dan sekecil-kecilnya.

Mengapa begitu? Sebab, demikian Agi, selama ini manusia selalu merasa terkungkung oleh tiga determinisme. Pertama adalah determinisme genetik. ''Karena kita orang Melayu atau karena kita orang Indonesia, maka kita tak bisa lakukan itu. Padahal, kita semua punya modal yang sama, yaitu 23 kromosom.''

Yang kedua adalah determinisme psikologi. Menurut Agi, jangan sampai ada angapan guru tak bia menjadi orang hebat. Toh selama ini sudah ada bukti sebaliknya. Ia kemudian menyebut beberapa nama, seperti Jenderal Sudirman dan Ki Hajar Dewantara.

Ketiga adalah determinisme lingkungan sekitar. Oleh karena itu, Agi menyarankan agar seorang pengajar tidak terpaku pada lingkungannya saja. Seorang guru harus
bisa mencari nilai tambah yang ada dalam dirinya dan menggunakan nilai itu untuk berubah. Seperti M Yunus yang menggunakan nilai itu untuk mengubah kemiskinan di negaranya. Itulah yang harus dicontoh guru.

''Kalau Anda punya satu keinginan untuk mengubah generasi, katakan itu dengan tegas. Ucapan adalah energi, maka harus hati-hati untuk mengucapkannya. Jangan pernah sekalipun berpikir negatif,'' tutur Agi.

Ia menyarankan para guru mencari suara hati mereka terhadap profesi yang sedang mereka jalani. ''Apa benar jadi guru adalah panggilan hati Anda? Kalau ya, maka gunakanlah itu untuk mengubah bangsa ini.'' (Ika Karlina Idris)

Bongkar!!!

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan



Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang



Penindasan serta kesewenang wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan





Dijalanan kami sandarkan cita cita
Sebab dirumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Kamis, 18 Februari 2010

Tips Meredam Amarah


Tips Cara Mengatasi Emosi Meredam Amarah/Marah Yang Dapat Merugikan Kita Dan Orang Lain

Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.
Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.
Beberapa ciri-ciri orang yang tidak mampu mengandalikan emosinya :
1. Berkata keras dan kasar pada orang lain.
2. Marah dengan merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya.
3. Ringan tangan pada orang lain di sekitarnya.
4. Melakukan tindak kriminal / tindak kejahatan.
5. Melarikan diri dengan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dsb.
6. Menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam.
7. Dendam dan merencanakan rencana jahat pada orang lain. dsb...
A. Beberapa Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Diri Sendiri by organisasi.org :
1. Rasakan Yang Orang Lain Rasakan
Cobalah bayangkan apabila kita marah kepada orang lain. Nah, sekarang tukar posisi di mana anda menjadi korban yang dimarahi. Bagaimana kira-kira rasanya dimarahi. Kalau kemarahan sifatnya mendidik dan membangun mungkin ada manfaatnya, namun jika marah membabi buta tentu jelas anda akan cengar-cengir sendiri.
2. Tenangkan Hati Di Tempat Yang Nyaman
Jika sedang marah alihkan perhatian anda pada sesuatu yang anda sukai dan lupakan segala yang terjadi. Tempat yang sunyi dan asri seperti taman, pantai, kebun, ruang santai, dan lain sebagainya mungkin tempat yang cocok bagi anda. Jika emosi agak memuncak mingkin rekreasi untuk penyegaran diri sangat dibutuhkan.
3. Mencari Kesibukan Yang Disukai
Untuk melupakan kejadian atau sesuatu yang membuat emosi kemarahan kita memuncak kita butuh sesuatu yang mengalihkan amarah dengan melakukan sesuatu yang menyenangkan dan dapat membuat kita lupa akan masalah yang dihadapi. Contoh seperti mendengarkan musik, main ps2 winning eleven, bermain gitar atau alat musik lainnya, membaca buku, chating, chayang-chayangan dengan kekasih pujaan hati, menulis artikel, nonton film box office, dan lain sebagainya. Hindari perbuatan bodoh seperti merokok, make narkoba, dan lain sebagainya.
4. Curahan Hati / Curhat Pada Orang Lain Yang Bisa Dipercaya
Menceritakan segala sesuatu yang terjadi pada diri kita mungkin dapat sedikit banyak membantu mengurangi beban yang ada di hati. Jangan curhat pada orang yang tidak kita percayai untuk mencegah curhatan pribadi kita disebar kepada orang lain yang tidak kita inginkan. Bercurhatlah pada sahabat, pacar / kekasih, isteri, orang tua, saudara, kakek nenek, paman bibi, dan lain sebagainya.
5. Mencari Penyebab Dan Mencari Solusi
Ketika pikiran anda mulai tenang, cobalah untuk mencari sumber permasalahan dan bagaimana untuk menyelesaikannya dengan cara terbaik. Untuk memudahkan gunakan secarik kertas kosong dan sebatang pulpen untuk menulis daftar masalah yang anda hadapi dan apa saja kira-kira jalan keluar atau solusi masalah tersebut. Pilih jalan keluar terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah yang ada. Mungkin itu semua akan secara signifikan mengurangi beban pikiran anda.
6. Ingin Menjadi Orang Baik
Orang baik yang sering anda lihat di layar televisi biasanya adalah orang yang kalau marah tetap tenang, langsung ke pokok permsalahan, tidak bermaksud menyakiti orang lain dan selalu mengusahakan jalan terbaik. Pasti anda ingin dipandang orang sebagai orang yang baik. Kalau ingin jadi penjahat, ya terserah anda.
7. Cuek Dan Melupakan Masalah Yang Ada
Ketika rasa marah menyelimuti diri dan kita sadar sedang diliputi amarah maka bersikaplah masa bodoh dengan kemarahan anda. Ubah rasa marah menjadi sesuatu yang tidak penting. Misalnya dalam hati berkata : ya ampun.... sama yang kayak begini aja kok bisa marah, nggak penting banget sich...
8. Berpikir Rasional Sebelum Bertindak
Sebelum marah kepada orang lain cobalah anda memikirkan dulu apakah dengan masalah tersebut anda layak marah pada suatu tingkat kemarahan. Terkadang ada orang yang karena diliatin sama orang lain jadi marah dan langsung menegur dengan kasar mengajak ribut / berantem. Masalah sepele jangan dibesar-besarkan dan masalah yang besar jangan disepelekan.
9. Diversifikasi Tujuan, Cita-Cita Dan Impian Hidup
Semakin banyak cita-cita dan impian hidup anda maka semakin banyak hal yang perlu anda raih dan kejar mulai saat ini. Tetapkan impian dan angan hidup anda setinggi mungkin namun dapat dicapai apabila dilakukan dengan serius dan kerja keras. Hal tersebut akan membuat hal-hal sepele tidak akan menjadi penting karena anda terlalu sibuk dengan rajutan benang masa depan anda. Mengikuti nafsu marah berarti membuang-buang waktu anda yang berharga.
10. Kendalikan Emosi Dan Jangan Mau Diperbudak Amarah
Orang yang mudah marah dan cukup membuat orang di sekitarnya tidak nyaman sudah barang tentu sangat tidak baik. Kehidupan sosial orang tersebut akan buruk. Ikrarkan dalam diri untuk tidak mudah marah. Santai saja dan cuek terhadap sesuatu yang tidak penting. Tujuan hidup anda adalah yang paling penting. Anggap kemarahan yang tidak terkendali adalah musuh besar anda dan jika perlu mintalah bantuan orang lain untuk mengatasinya.
B. Cara Untuk Meredam Emosi / Amarah Orang Lain by organisasi.org :
Untuk meredam amarah orang lain sebaiknya kita tidak ikut emosi ketika menghadapi orang yang sedang dilanda amarah agar masalah tidak menjadi semakin rumit. Cukup dengarkan apa yang ingin ia sampaikan dan jangan banyak merespon. Tenang dan jangan banyak hiraukan dan dimasukkan dalam hati apa pun yang orang marah katakan. Cukup ambil intinya dan buang sisanya agar kita tidak ikut emosi atau menambah beban pikiran kita.
Jika marahnya karena sesuatu yang kita perbuat maka kalau bukan kesalahan kita jelaskanlah dengan baik, tapi kalau karena kesalahan kita minta maaf saja dan selesaikanlah dengan baik penuh ketenangan batin dan kesabaran dalam mengatasi semua kemarahannya. Lawan api dengan air, jangan lawan api dengan api. Semoga berhasil menjinakkan emosi rasa marah anda.

Memeaknai Kegagalan Cinta


4655555555555555555 Memaknai KegagalanSeperti bayi yang tak diinginkan kelahirannya, tapi menjadi orang paling berguna ketika dewasa, daripada saudara-saudaranya. Tamsil ini barangkali cocok untuk mengibaratkan sebuah kegagalan. Kegagalan, adalah realita yang –tak dipungkiri- tidak pernah diinginkan kehadirannya, tapi ternyata membawa hikmah yang luar biasa di balik punggungnya. Meski demikian, wajar jika tak seroang pun pernah menginginkan kegagalan menyapa dirinya. Itu karena sang hikmah tak pernah mau menampakkan diri tepat pada saat kegagalan menghampiri.
Gagal. Dalam kamus bahasa indonesia artinya batal atau tidak jadi meraih sesuatu. Sebelum membahas lebih lanjut, kita harus membatasi makna gagal pada sesuatu yang tidak jadi atau batal terraih setelah adanya usaha maksimal. Sebab, kegagalan yang terjadi sebelum atau tanpa usaha maksimal, sejatinya bukanlah kegagalan tapi konsekuensi logis. Sebuah keniscayaan dari lemahnya usaha dan semangat. Batasan lainnya adalah sesuatu yang diusahakan tersebut bersifat mubah, bukan yang dilarang syariat. Dengan batasan ini, segala sudut pandang, filosofi dan motivasi –insyaallah- akan bisa benar-benar menyasar dan tak salah tempat.
Kegagalan Memang Menyakitkan
Dilihat dari sudut pandang fakta, kegagalan memang pahit rasanya bahkan mungkin menyakitkan. Betapa keringat yang telah keluar, waktu yang telah terkorban dan segenap usaha ternyata harus runtuh tak menghasilkan. Semua itu jelas bukan sesuatu yang langsung bisa dipersepsikan sebagai sebuah keberhasilan yang tertunda. Dimana seseorang bisa tetap tenang dan tersenyum saat melihat kemunculannya. Karenanya, diperlukan manajemen berpikir yang baik untuk mengolah shock akibat kegagalan. Harapanya agar kegagalan tersebut bisa menjadi batu loncatan menuju kesuksesan.
Pertama, sebelum kita berusaha menghibur diri dengan berusaha mencari filosofi-filosofi orang sukses mengenai kegagalan, kita harus sadari bahwa kegagalan itu bagian dari takdir. Takdir yang harus kita terima, karena semuanya telah terjadi. Ini penting disadari karena dengan memahami sepenuh hati bahwa semua itu telah menjadi kehendak-Nya dan telah berlalu, satu kekecewaan akan tertutup. Qadarallahu ma sya’a fa’ala, Allah telah menakdirkan demikian, apa yang Dia kehendaki pasti kan terjadi. Seseorang tidak perlu kembali ke masa silam untuk mengubah keadaan. Ia hanya perlu memulai yang baru, untuk menemukan akhir seperti yang diinginkan, biidznillah.
Kedua, kegagalan itu bukan aib dan bukan sesuatu yang memalukan. Kesalahan itu wajar. Kata orang, kesalahan hanyalah sesuatu yang menegaskan bahwa kita masih layak disebut manusia. Persepsi ini akan membuat hati kita tenang. Mengapa? Karena hantu paling menakutkan bagi manusia adalah tersingkapnya aib dan keburukan. Jika kegagalan dalam usaha bukan sesuatu yang tercela, maka untuk apa ditakuti? Lagipula,  mencela kegagalan sebenarnya hanyalah mencela masa lalu. Perbuatan yang sama sekali tidak berguna.
Ketiga, silahkan mencari berbagai filosofi untuk membangun positif thinkingdalam menghadapi sebuah kegagalan. Ada banyak kata-kata bijak yang bisa kita renungi darinya. Misalnya: “kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda”. Karena kegagalan adalah bagian tak terpisahkan dari kesuksesan. Tidak ada usaha maksimal yang benar-benar mengalami kegagalan. Kegagalan hanyalah lampu merah bahwa ada yang salah dalam usaha kita. Sedang kesalahan akan semakin menegaskan yang benar dan membuatnya semkain kontras. maka sebenarnya “Kegagalan adalah guru besar orang-orang sukses”. Ada lagi yang mengatakan, hitunglah kegagalan seperti menghitung umur. Secara bilangan bertambah, tapi haikikatnya berkurang. Artinya secara jumlah (kali) kegagalan memang bertambah; sekali, dua kali, tiga kali dst. Tapi secara hakikat berkurang karena semakin banyak gagal, semakin banyak pelajaran yang diambil dan semakin dekatlah tangga kesuksesan. Karenanya, benralah jika dikatakan, “kesuksesan, sejatinya adalah anak tangga terakhir kegagalan”.
Pada akhirnya, apakah kegagalan adalah abtu loncatan menuju kesuksesan atau tidak, semua bergantung dari sikap si penerima trofi kegagalan. Ia bisa memilih antara;
  1. Menolak; tidak terima, mencari kambing hitam, mencari pembenaran diri dan berhenti. Dengan ini kegagalan adalah anak tangga patah yang benar-benar membuatnya terjerembab tak mampu bangun lagi. Bukan yang menjadikan kakinya melangkah lebih panjang menuju anak tangga berikutnya.
  2. Menerima tapi melakukan kesalahan yang sama. Sikap keras kepala yang tidak akan membuahkan –jelas- tidak akan membuahkan kesuksesan.
  3. Menjadikan kegagalan sebagai pelajaran dan suntikan penyemangat. Dan inilah yang akan menjadi kebangkitan yang nyata.
Kegagalan Hakiki
Kegagalan, apapun bentuknya selagi masih di dunia bukanlah kegagalan yang yang sebenarnya. Masih ada peluang untuk meraih keberhasilan. Asalkan tetap ada semangat, kerja keras dan kecerdasan untuk belajar dari kegagalan. Sehingga kegagalan bukanlah lembar terakhir dari buku kehidupan. Gagal lulus sekolah, bukan berarti masa depan suram. Banyak pengusaha kaya yang memiliki ‘pengalaman buruk’ dalam hal akademik. Gagal mendapat jodoh impian, tidak berarti harus membujang. Masih ada yang lain, yang sangat mungkin jauh lebih baik dan berbagai kegagalan yang lain. Intinya kegagalan bukanlah akhir segalanya.
Kegagalan yang sesungguhnya adalah kegagalan dalam berusaha untuk menjadi hamba yang layak mendapat ridha-Nya. Kegagalan sejati adalah ketika seseorang benar-benar gagal, bangkrut dan tak memperoleh nilai di akhirat dari apa yang telah diusahakannya di dunia. Allah berfirman,
“Bekerja keras lagi kepayahan, -tapi- memasuki api yang sangat panas (naar).”, (QS. Al Ghasiyah:3-4)
Profil manusia paling gagal adalah manusia yang tidak beriman. Betapapun baiknya, betatapun dermawannya dan betapapun santunya ia di dunia, tetap saja dia akan gagal mendapatkan balasan dari kebaikannya di akhirat.  Profil yang lain adalah seorang muflis, manusia bangkrut yang benar-benar bangkrut. Rasulullah bersabda,
“Orang yang bangkrut adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa pahala shalat, sedekah dan shiyam. Tapi ia telah mengumpat ini, memukul si ini dan memakan harta si ini. Lalu diambilah kebaikannya untuk si ini dan si ini. Jika kebaikannya habis sebelum impas, kesalahan mereka akan diberikan kepadanya, lalu ia dijebloskan ke neraka.” (HR. Bukhari Muslim)
Maka, selagi masih di dunia, tidak ada kata gagal dan tidak perlu khawatir mengalaminya jika kita mampu memaknai kegagalan dengan benar. Yang harus kita waspadai adalah jangan sampai kita mengalaminya di akhirat. Karena akhirat adalah lembaran terakhir dari kisah perjalanan hidup kita.Wallahua’lam.
Sumber : http://www.arrisalah.net